CERITA – “AKU JATUH CINTA”

 

Lampu4d.Aku selalu percaya bahwa hidup berjalan seperti sungai: mengalir, sesekali tenang, sesekali bergelombang, dan kadang membawa sesuatu yang sama sekali tidak kita sangka. Aku tidak pernah mengira bahwa dalam suatu sore yang tampak biasa, ketika aku sedang duduk di bangku taman sambil menunggu hujan reda, aku akan merasakan sesuatu yang mengubah caraku memandang dunia. Saat itulah untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa: aku jatuh cinta.

Hujan turun rintik-rintik, meninggalkan aroma tanah basah yang menenangkan. Orang-orang terburu-buru berteduh, tapi aku memilih duduk saja karena baterai ponselku habis dan tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain mengamati sekitar. Dari kejauhan, kulihat seseorang berlari kecil dengan payung kecil berwarna kuning. Dia tampak menyelip di antara genangan, sesekali tersenyum sendirian ketika hampir terpeleset. Ada sesuatu yang lucu dan hangat dari caranya berusaha tetap kering meski jelas-jelas kalah dari hujan.

Ketika ia akhirnya tiba di area taman tempatku duduk, payungnya tersangkut pada dahan pohon. Ia tertawa kecil sambil berusaha melepaskannya. Tawa itu—ringan, jujur, tanpa dibuat-buat—membuatku menoleh. Dan di sanalah, di tengah hujan yang samar, matanya bertemu mataku. Singkat, mungkin hanya satu detik, tetapi cukup untuk membuat napasku sedikit tertahan.

“Maaf,” katanya sambil tersenyum, “boleh duduk di sini? Kursi lain kena cipratan air semua.”

Aku mengangguk, masih tanpa kata. Jarak kami hanya beberapa jengkal, tapi rasanya seperti dua dunia yang tiba-tiba bertemu untuk pertama kalinya. Aku masih ingat bagaimana dia menepuk celana panjangnya yang sedikit basah dan kembali tertawa kecil, seolah basah kuyup adalah hal paling lucu yang bisa terjadi hari itu.

“Hujannya susah berhenti, ya,” ujarnya membuka percakapan.

“Sepertinya begitu,” jawabku. “Tapi setidaknya baunya enak.”

“Ah, kamu juga suka aroma hujan?” katanya. “Jarang loh ketemu orang yang bilang begitu.”

Percakapan kami mengalir seperti sungai yang tenang. Kami bicara soal hal-hal kecil: tentang kopi favorit, tentang film yang baru ia tonton, tentang alasannya membawa payung kuning yang, menurutnya, lebih cepat terlihat kalau hilang. Aku tertawa mendengarnya, dan ia ikut tertawa, entah karena memang lucu atau karena melihatku tertawa. Dan entah bagaimana, di tengah semua yang sederhana itu, aku mulai merasakan sesuatu yang tidak sederhana sama sekali.

Lampu4d.Ada momen ketika ia menyibak rambutnya yang basah dari kening, lalu menatap langit seakan sedang berbicara dengan hujan. Ada warna lembut di wajahnya yang sulit kugambarkan. Sesuatu yang membuatku merasa ingin tahu lebih banyak tentangnya. Bukan hanya namanya, bukan hanya ke mana ia hendak pergi hari itu, tetapi segala hal yang membuatnya menjadi dirinya. Dan itulah pertama kalinya aku menyadari bahwa aku jatuh cinta. Mungkin terlalu cepat, mungkin terlalu impulsif, tapi perasaan itu hadir begitu saja, tanpa meminta izin.

Ketika hujan mereda, ia menutup payungnya dan berdiri. “Kayaknya aku harus jalan lagi,” katanya. “Kalau aku kelamaan duduk, nanti malah malas pulang.”

Aku mengangguk pelan, merasa ada sesuatu yang tertinggal. Entah keberanian, entah kata-kata yang belum sempat aku ucapkan. Ia tersenyum sekali lagi sebelum melangkah. Lalu, hanya beberapa langkah dari bangku, ia berhenti dan berbalik.

“Eh… aku boleh tahu namamu?” tanyanya.

Aku menyebutkan namaku, sedikit gugup. Ia mengulanginya, memastikan pengucapannya benar, lalu memperkenalkan dirinya. Nama itu terasa hangat, seperti sesuatu yang ingin kusimpan lama-lama di kepala.

“Aku senang ketemu kamu di hari hujan,” katanya.

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat dadaku terasa penuh. Sebelum aku sempat membalas, ia melambai pelan dan berjalan pergi, meninggalkan jejak air dari sepatunya di jalan setapak taman.

Sore itu aku pulang dengan langkah ringan. Di kamar, aku menatap langit-langit sambil tersenyum seperti orang bodoh. Rasanya aneh bagaimana seseorang yang baru kukenal bisa membuat perasaanku secerah itu. Tapi malamnya, muncul rasa cemas yang tidak kusangka. Bagaimana kalau itu hanya perasaan sesaat? Bagaimana kalau aku tidak pernah bertemu lagi dengannya? Bagaimana kalau namanya perlahan memudar seiring waktu? Pikiran-pikiran itu membuatku gelisah.

Namun, hal lucu tentang hidup adalah ia sering membawa kita ke tempat yang tak terduga. Dua hari setelahnya, ketika aku sedang mengantre di kedai kopi dekat taman, aku mendengar suara yang sudah mulai kukenal.

“Hah! Kita ketemu lagi!”

Aku menoleh, dan di sanalah ia berdiri, rambut sedikit berantakan, mengenakan kaus bertuliskan sesuatu yang lucu. Ia memesan kopi, lalu tanpa diminta langsung duduk di mejaku. Dari sana, segalanya berkembang begitu alami. Kami berbicara lebih lama, lebih dalam, hingga akhirnya pertemuan itu menjadi pertemuan-pertemuan berikutnya: berjalan di sepanjang sungai, menonton film yang membuatku tertawa lebih daripada filmnya sendiri, dan mendengarkan ceritanya tentang mimpi-mimpinya yang kadang lucu, kadang serius.

Lampu4d.Semakin aku mengenalnya, semakin aku merasa perasaan itu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba lalu hilang. Setiap kali ia tersenyum saat menceritakan hal-hal kecil, setiap kali matanya berbinar ketika berbicara tentang sesuatu yang ia suka, setiap kali ia menoleh padaku seolah ingin memastikan aku mendengarkan—aku tahu perasaan itu tumbuh semakin dalam.

Dan pada suatu malam ketika kami duduk di taman yang sama tempat kami pertama bertemu, ia menatapku lama sekali sebelum berkata pelan, “Kamu tahu… aku senang karena hari itu hujan. Kalau tidak, kita mungkin nggak ketemu.”

Aku tersenyum, dan di dalam hati mengulang tiga kata yang sejak awal ingin kuucapkan: aku jatuh cinta.

Tapi malam itu, aku belum berani mengatakannya. Aku hanya menatapnya kembali, berharap ia mengerti dari caraku melihatnya. Dan kupikir ia memang mengerti, karena ia tersenyum—senyum yang memberiku keyakinan bahwa mungkin, hanya mungkin, ia jatuh cinta juga.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA DI TEMPAT YANG SALAH

Cinta Tukang Parkir