CINTA DI TEMPAT YANG SALAH

 

LAMPU4D.Di sebuah kota kecil yang tidak pernah benar-benar tidur, ada sebuah toko kopi tua bernama Sena & Sons. Toko itu kecil, pencahayaannya hangat, aroma biji kopi memenuhi udara seperti selimut tipis yang menenangkan. Di sudut kanan dekat jendela, Raka duduk hampir setiap sore, memandangi dunia yang bergerak tanpa menunggunya. Ia terbiasa menghabiskan waktu dengan cara begitu: diam, mengamati, dan berharap hari esok akan lebih baik dari kemarin.

Suatu sore, langit memerah seperti arang panas, hujan turun perlahan seolah ragu. Saat itu seorang perempuan masuk tergesa-gesa, rambutnya sedikit basah, tasnya hampir terjatuh. Pakaian kantornya menunjukkan ia baru saja pulang dari pekerjaan yang melelahkan. Namanya Nadira.

Raka, tanpa alasan yang bisa ia jelaskan, merasa dunia berhenti sejenak saat perempuan itu menatapnya sekilas sambil meminta tisu kepada barista. Tatapan cepat, sederhana, tapi ada sesuatu yang membuat napasnya tercekat. Seperti ada sesuatu yang diketahui hatinya tapi belum dipahami pikirannya. Nadira tersenyum—senyum pendek yang sopan—lalu duduk tidak jauh dari tempat Raka.

Sejak hari itu, takdir seakan menjadi lebih rajin bekerja. Mereka bertemu lagi dan lagi, kadang tanpa sengaja, kadang seperti serangkaian kebetulan yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Perlahan, percakapan singkat berubah menjadi obrolan panjang. Tawa Nadira menjadi suara favorit Raka. Dan setiap kali wanita itu bercerita tentang hidupnya, tentang kesibukan kantor, tentang mimpinya membuka studio seni, Raka merasa seperti menemukan potongan dirinya yang hilang.

Namun ada satu hal.

Satu hal yang sejak awal sudah diceritakan Nadira dengan jujur.

Ia sudah memiliki tunangan.


LAMPU4D.Raka tahu. Ia tahu sejak kalimat pertama keluar dari bibir wanita itu di pertemuan ketiga mereka: “Aku sudah bertunangan, Kak.”

Nada Nadira waktu itu seperti permintaan maaf sebelum sebuah kesalahan terjadi. Raka mengangguk, berkata itu bukan masalah, bahwa mereka hanya berteman. Ia mengatakannya dengan mudah, tapi hatinya tidak ikut serta dalam kesepakatan itu.

Waktu berjalan. Dalam sinar kuning remang toko kopi itu, keduanya semakin dekat. Terlalu dekat. Terkadang Nadira berbicara tentang tunangannya: Reza, seorang arsitek yang tampan, cerdas, dan menurutnya sangat baik. Raka mendengarkan, pura-pura tenang, sementara dadanya seperti diremas.

Ia tahu seharusnya ia menjaga jarak.

Ia tahu seharusnya ia berhenti datang ke toko itu.

Tapi cinta, seperti hujan yang turun tanpa izin, tidak menunggu persetujuan siapa pun.


Suatu malam, hujan turun dengan lebih keras, seperti sedang mengaduk-aduk langit. Raka dan Nadira duduk di sudut yang sama, hanya ditemani suara hujan dan musik jazz dari pengeras suara tua. Lampu kuning membuat kedekatan mereka tampak seperti sesuatu yang seharusnya terjadi, padahal tidak.

“Kadang aku merasa lelah,” kata Nadira pelan, menatap jendela basah. “Reza baik, tapi aku sering merasa tidak benar-benar didengar.”

Raka menelan ludah, menjaga suaranya tetap stabil. “Apa dia tahu kamu suka melukis?”

Nadira menggeleng lembut. “Dia bilang itu hanya hobi yang tidak perlu diprioritaskan.”

LAMPU4D.Hening. Lalu Nadira menatap Raka. Mata itu—lelah, tapi hangat—terlihat begitu dekat. Terlalu dekat.

“Kalau aku…,” Raka berkata perlahan, “aku akan bilang itu bagian dari dirimu yang paling indah.”

Nadira tersenyum kecil, tapi ada sesuatu yang bergetar dari tatapannya. “Kamu selalu begitu, ya.”

“Begitu gimana?”

“Membuat aku merasa berarti.”

Kata-kata itu tidak seharusnya ia ucapkan.

Tapi ia tetap mengatakannya.

Raka menunduk. “Maaf.”

“Untuk apa?”

“Untuk merasa sesuatu… yang tidak seharusnya aku rasakan.”

Nadira tidak menjawab. Ia hanya menatap hujan dan menggenggam cangkirnya lebih erat, seolah mencari pegangan. Dalam diam itu, keduanya tahu sesuatu sudah berubah. Dan perubahan itu bukan hal yang bisa mereka tarik kembali.


Dalam beberapa minggu berikutnya, keduanya mencoba kembali pada batasan yang pernah mereka janjikan. Tapi batas itu sudah retak. Dan retakan selalu tumbuh, tidak pernah mengecil. Raka menjadi tempat Nadira bercerita, tertawa, mengeluh, menangis. Dan Nadira menjadi alasan Raka bangun setiap hari.

Sampai akhirnya suatu sore yang tenang, Nadira datang dengan wajah hancur.

“Reza marah,” katanya dengan suara bergetar.

Raka menegakkan tubuh. “Kenapa?”

“Dia bilang aku berubah akhir-akhir ini. Dia tanya apakah aku menyukai orang lain.”

Raka menahan napas.

“Apa kamu bilang iya?” tanya Raka, suaranya hampir tak terdengar.

Nadira memejamkan mata, lalu membuka kembali dengan sendu.

“Aku tidak menjawab.”

Jawaban itu lebih menusuk daripada sebuah pengakuan langsung.

Tempat itu terasa semakin kecil. Udara semakin berat. Nadira menatap Raka lama, sangat lama, dan pada akhirnya, ia bergumam:

“Aku takut.”

“Apa yang kamu takuti?”

“Aku takut… kalau aku tinggal di sini terlalu lama, aku tidak akan ingin pulang.”

Raka membuang pandangannya. “Dan apa yang kamu inginkan?”

Nadira membuka mulut, tapi menutupnya lagi. Pada akhirnya, ia berbisik, “Aku tidak tahu.”

Itu jawaban paling jujur sekaligus paling menyakitkan.


Beberapa hari setelah itu, Nadira tidak muncul sama sekali. Toko kopi itu terasa kosong meski ramai oleh orang lain. Waktu berjalan lambat, seperti menolak bergerak tanpa kehadiran wanita itu. Raka mencoba fokus pada pekerjaan, pada hidup, tapi rasanya selalu kurang.

Hingga suatu malam, teleponnya berbunyi.

Nomor Nadira.

“Raka…” suaranya terdengar serak. “Aku akan menikah bulan depan.”

Dunia Raka runtuh tanpa suara.

“Oh,” ia hanya mampu berkata begitu.

“Aku… aku minta maaf.”

“Tidak apa-apa,” katanya, meski itu kebohongan paling besar yang pernah ia ucapkan.

“Aku tidak boleh datang lagi. Aku harus berhenti membuat semuanya rumit.”

Keheningan menyergap keduanya. Akhirnya, Nadira berbisik:

“Terima kasih… karena sudah membuatku merasa hidup.”

Telepon terputus.

Dan malam itu, Raka menangis untuk cinta yang bukan miliknya sejak awal.


LAMPU4D.Beberapa minggu kemudian, Raka duduk di tempat biasa. Toko kopi itu masih sama, tetapi tidak ada lagi tawa yang menghangatkan sudut itu. Ia memandangi hujan yang kembali turun, seperti mengulang kisah yang sama.

Kadang, ia bertanya pada dirinya sendiri: apakah cinta yang salah tempat selalu berakhir menyakitkan? Atau apakah rasa itu sebenarnya hadiah, meski sementara, meski tidak lengkap?

Yang ia tahu, Nadira mengajarinya sesuatu:

Bahwa cinta tidak selalu datang untuk dimiliki. Kadang ia datang hanya untuk mengingatkan kita bahwa hati masih bisa bergetar.

Dan walau ia mencintai di tempat yang salah, cinta itu tetap nyata.

Tetap indah.

Tetap meninggalkan jejak.

Walau tidak bisa dimiliki.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Tukang Parkir

CERITA – “AKU JATUH CINTA”