Cinta di Perkebunan

 

Lampu4d.Embun pagi masih menempel di ujung daun teh ketika Aruna menapakkan kakinya di jalan setapak menuju perkebunan. Udara dingin dari dataran tinggi membelai wajahnya, membawa aroma tanah basah yang selalu membuatnya merasa pulang. Sudah dua tahun ia bekerja sebagai pengelola lapangan di perkebunan ini—perkebunan yang dahulu hanya ia lihat lewat cerita almarhum kakeknya. Namun pagi itu terasa berbeda, seolah setiap desir angin membawa isyarat bahwa hari itu akan memulai sesuatu yang baru dalam hidupnya.

“Pagi, Mbak Aruna!” teriak seorang pemetik teh dari kejauhan.

Aruna melambaikan tangan. “Pagi! Jangan lupa cek kelembapan daun ya, semalam hujan.”

Langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang lelaki asing sedang memotret area perkebunan dari sudut barat. Lelaki itu tampak fokus, sesekali mengatur lensa kamera, sesekali menunduk mencatat sesuatu di buku kecil. Aruna mendekat dengan penasaran.

“Maaf, Mas. Anda siapa? Biasanya kalau ada tamu harus lapor dulu ke kantor.”

Lelaki itu menoleh, sedikit kaget, lalu tersenyum. Senyum yang hangat, tapi juga sedikit canggung. “Ah, iya. Saya Dipa. Fotografer dokumenter. Saya dikirim pihak kantor pusat untuk mengambil gambar perkebunan ini. Saya sudah izin lewat email, mungkin Mbak belum diberi tahu.”

Aruna menghela napas. “Oh, begitu. Maaf, saya belum cek email pagi ini. Tapi tidak apa-apa. Asal jangan masuk area pembibitan tanpa pendamping.”

Dipa mengangguk. “Siap, Mbak.”

Aruna hendak pergi ketika Dipa berseru lagi. “Mbak Aruna, ya? Nama yang tadi disebut pemetik teh?”

Aruna menoleh, sedikit bingung. “Iya, benar.”

“Saya baru sampai tadi subuh. Tapi dari tadi semua orang di sini ngomong soal Mbak. Katanya Mbak yang paling tahu seluk-beluk perkebunan ini.”

Aruna terkekeh pelan. “Ya… saya memang lama di sini. Kalau Mas butuh panduan, saya bisa bantu.”

Dipa tersenyum lagi—kali ini lebih lepas. “Wah, kalau begitu saya punya pemandu terbaik.”

Lampu4d.Aruna hanya mengangguk kecil, lalu melanjutkan pemeriksaannya. Namun dalam hatinya ada sesuatu yang bergetar pelan. Ia sendiri tak paham, apakah karena tatapan Dipa yang hangat, atau karena caranya berbicara yang tenang dan tulus.


Hari demi hari berlalu. Setiap pagi, Dipa selalu terlihat menunggu di pintu gudang, kamera tergantung di leher, siap mengikuti Aruna ke mana pun ia pergi. Mereka berjalan menyusuri perkebunan teh yang luas, melewati lereng-lereng hijau sejauh mata memandang. Kadang mereka berhenti di bawah pohon rindang, ketika Dipa ingin mengabadikan burung-burung kecil yang bertengger di ranting.

Aruna yang semula melihatnya sebagai orang asing mulai melihat sesuatu yang berbeda. Dipa bukan sekadar bekerja. Ia benar-benar mencintai setiap sudut alam yang ia foto. Tangannya gemetar pelan ketika melihat cahaya matahari jatuh tepat di antara helai daun. Matanya berbinar setiap kali mendengar cerita Aruna tentang masa kecil di perkebunan.

Suatu pagi, ketika kabut masih menutupi sebagian bukit, Dipa meminta Aruna mengambil pose di tengah hamparan teh. Aruna menolak berkali-kali, tapi Dipa bersikeras.

“Cuma sebentar. Bukan untuk publikasi. Untuk koleksi pribadi. Santai saja,” katanya sambil tersenyum.

Akhirnya Aruna menyerah. Ia berdiri diam, membiarkan angin meniup rambutnya. Dipa memotret dengan khidmat, seolah menangkap sesuatu yang lebih dari sekadar gambar.

Setelah selesai, ia menurunkan kamera pelan. “Aruna… kamu cocok sekali dengan tempat ini. Seolah kamu adalah bagian dari perkebunan ini.”

Aruna terdiam. Ada rasa hangat yang sulit diungkapkan.


Seminggu kemudian, hujan turun deras tanpa peringatan. Aruna dan Dipa sedang berada di area paling jauh dari gudang. Mereka berteduh di gubuk kecil tempat para pemetik biasanya beristirahat.

Petir sesekali membelah langit. Suara hujan memukul atap seng menciptakan ritme kacau namun indah. Aruna menggosok lengannya yang kedinginan. Dipa melepas jaketnya dan menyampirkannya di bahu Aruna.

“Kamu bisa masuk angin kalau begini,” katanya.

Aruna menolak. “Nggak apa-apa. Kamu juga pasti kedinginan.”

“Tapi kamu lebih butuh,” jawab Dipa tegas.

Lampu4d.Aruna akhirnya diam. Hatinya berdetak lebih cepat. Mereka duduk berdampingan, begitu dekat hingga ia bisa mendengar napas Dipa yang stabil. Tidak ada kata-kata yang keluar selama beberapa menit. Namun keheningan itu tidak canggung—justru membuat keduanya merasa sedang berbagi sesuatu yang tidak bisa diucapkan.

“Aruna,” kata Dipa pelan. “Aku tahu ini baru beberapa minggu. Tapi… entah kenapa aku merasa seperti sudah mengenalmu bertahun-tahun.”

Aruna menatapnya. “Dipa…”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah proyek ini selesai. Aku tidak tahu berapa lama aku akan di sini. Tapi satu hal yang aku tahu… aku menyukai keberadaanmu.” Dipa menatap mata Aruna dalam-dalam. “Aku suka caramu mencintai tanah ini. Caramu memperhatikan setiap daun, setiap pekerja, setiap detail kecil yang mungkin tidak dilihat orang lain.”

Aruna menunduk, pipinya memanas. “Aku… juga merasa nyaman bersamamu,” bisiknya.

Dipa tersenyum. Senyum yang membuat hujan terasa lebih hangat.


Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Mereka mulai bicara bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga kehidupan, kenangan, dan mimpi masing-masing. Dipa bercerita tentang kota besar yang membuatnya lelah. Tentang impiannya suatu hari tinggal di tempat tenang. Aruna bercerita tentang keluarganya, tentang kakek yang mengajarinya mencintai perkebunan ini.

Namun kebahagiaan itu mulai terasa rapuh ketika Dipa mendapat telepon dari kantor pusat.

“Mereka minta aku pulang minggu depan,” katanya sembari menunduk.

Aruna terdiam. Seperti ada sesuatu yang jatuh di dadanya.

“Minggu depan?” suaranya hampir tak terdengar.

Dipa mengangguk. “Proyek ini sudah cukup. Mereka butuh aku di kota untuk project baru.”

Aruna berusaha tersenyum. “Ya… pekerjaan memang begitu.”

“Tapi aku tidak mau pergi begitu saja,” kata Dipa cepat. “Aruna, kalau aku kembali… kamu akan menungguku?”

Aruna menatapnya lama, matanya berkilat terkena cahaya matahari sore. “Aku tidak bisa janji. Tapi aku tahu satu hal—aku ingin kamu kembali.”

Dipa menggenggam tangan Aruna. Hangat. Lembut. Penuh harapan.


Lampu4d.Seminggu berlalu terlalu cepat. Pada hari keberangkatan Dipa, seluruh perkebunan terasa sunyi. Aruna mengantarnya sampai gerbang. Mereka berdiri saling berhadapan, tak mampu mengucapkan banyak kata.

“Aruna,” bisik Dipa, “terima kasih untuk semua. Cinta di perkebunan ini… akan selalu aku bawa ke mana pun.”

Aruna tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. “Aku juga, Dipa. Terima kasih sudah membuatku percaya bahwa cinta bisa tumbuh di tempat yang paling sederhana.”

Dipa mengecup punggung tangan Aruna sebelum naik ke mobil. Mobil itu melaju perlahan, meninggalkan jejak debu di jalanan tanah.

Aruna berdiri lama, memandangi mobil itu menghilang di tikungan. Angin berhembus pelan, membawa aroma daun teh muda.

Ia menutup mata dan berbisik, “Aku akan menunggu.”

Dan di antara hamparan hijau perkebunan, cinta itu tetap hidup—menunggu saat dipetik kembali.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA DI TEMPAT YANG SALAH

Cinta Tukang Parkir

CERITA – “AKU JATUH CINTA”